Daftar Isi
- Mengapa Banyak SKU Mempersulit Sertifikasi Halal
- Langkah Nol: Membuat Peta Halal
- Tujuh Strategi Menetapkan Prioritas
- Matriks Penilaian untuk Prioritas
- Ketika Satu Pemasok Memasok Banyak Bahan
- Jangan Lupakan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH)
- Urutan dari Pemetaan hingga Registrasi BPJPH
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagi perusahaan dengan puluhan atau ratusan SKU, pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana kami mendapat sertifikasi halal?” melainkan “Produk mana yang didahulukan, bahan mana yang diperiksa lebih dulu, dan pemasok mana yang harus segera ditindaklanjuti?” Satu dokumen pemasok yang belum lengkap dapat menahan banyak produk sekaligus. Dengan tahap sertifikasi halal berikutnya yang menurut BPJPH berlaku mulai 18 Oktober 2026, bisnis multi-SKU membutuhkan urutan prioritas yang jelas sebelum beban kerja menumpuk.
1. Mengapa Banyak SKU Mempersulit Sertifikasi Halal
Perusahaan dengan 150 SKU, 80 bahan baku, 25 pemasok, dan tiga fasilitas produksi akan cepat menemui ketergantungan. Mengganti satu pemasok bisa berdampak pada belasan produk. Satu bahan dengan status halal yang belum jelas dapat memblokir setiap produk yang menggunakannya. Menangani setiap SKU secara terpisah membuang waktu, karena dokumen bahan yang sama sering diminta berulang kali.
Urutan prioritas karena itu harus mempertimbangkan dampak bisnis, kompleksitas bahan, kesiapan dokumen, dan risiko produksi secara bersamaan. Penilaian halal meninjau bahan, proses produksi halal, fasilitas, dan penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH), sehingga rencana yang hanya melihat produk jadi akan melewatkan hambatan yang sebenarnya.
2. Langkah Nol: Membuat Peta Halal
Sebelum mengajukan apa pun, buat satu tabel induk yang mencatat setiap SKU dengan informasi berikut:
| Kelompok Data | Yang Dicatat |
|---|---|
| Produk | Nama produk, kategori, status sertifikasi saat ini |
| Bahan | Komposisi lengkap, daftar bahan baku, status dokumen halal untuk setiap bahan |
| Pemasok | Pemasok untuk setiap bahan, dan apakah berasal dari lokal atau impor |
| Produksi | Fasilitas yang digunakan, alur proses |
| Rencana perubahan | Rencana perubahan bahan, perubahan pemasok, atau reformulasi |
Peta halal sering memperlihatkan pola yang sebelumnya tidak terlihat. Misalnya, 60 SKU mungkin memakai bahan dasar yang sama. Melengkapi dokumen untuk satu bahan itu kemudian membuka 60 produk sekaligus.
3. Tujuh Strategi Menetapkan Prioritas
Strategi 1: Mulai dari Dampak Bisnis Tertinggi
Kelompokkan produk berdasarkan pendapatan, volume, margin, status unggulan, laju pertumbuhan, rencana peluncuran, dan perannya sebagai pintu masuk ke saluran ritel atau marketplace.
Namun penjualan saja tidak cukup. SKU terlaris dengan bahan turunan hewan impor yang kompleks mungkin membutuhkan persiapan berbulan-bulan, sementara SKU yang lebih kecil dengan bahan lokal yang sederhana mungkin siap jauh lebih cepat. Gabungkan dampak bisnis dengan kesiapan halal.
Strategi 2: Prioritaskan Bahan yang Dipakai di Banyak SKU
Dalam portofolio besar, langkah ini biasanya memberi dampak paling luas. Jika Bahan X muncul di tiga produk dan Bahan Y di dua produk, memastikan dokumen Bahan X lebih dulu akan memajukan ketiga SKU sebelum pekerjaan spesifik produk dimulai. Tanyakan bukan hanya “Produk mana yang harus disertifikasi?” tetapi juga “Bahan mana yang memengaruhi paling banyak SKU?”
Strategi 3: Kelompokkan Pemasok Berdasarkan Kesiapan Dokumen
| Kelompok | Kondisi | Tindakan |
|---|---|---|
| A: Dokumen lengkap | Dokumen pendukung tersedia, informasi bahan jelas | Verifikasi dan arsipkan |
| B: Sebagian lengkap | Bahan tersedia, tetapi sebagian dokumen perlu dilengkapi atau diverifikasi | Kirim daftar kekurangan dengan tenggat waktu |
| C: Belum jelas | Informasi bahan, proses, asal, atau dokumen tidak memadai | Klarifikasi intensif, atau siapkan pemasok alternatif |
Risiko terbesar ada pada pemasok Kelompok B atau C yang memasok bahan kritis untuk banyak SKU. Tangani mereka lebih dulu.
Strategi 4: Telusuri dari Bahan, Bukan Hanya Produk Jadi
Kesalahan yang umum adalah hanya berfokus pada produk jadi, padahal status halalnya bergantung pada bahan dan proses di baliknya. Urutan yang lebih andal adalah Produk → Bahan → Pemasok → Proses → Fasilitas, bukan Produk → Sertifikat.
Dalam beberapa kasus, pengujian laboratorium dapat membantu menyelesaikan keraguan tentang bahan atau produk, misalnya kemungkinan kontaminasi. Tidak setiap produk memerlukan pengujian. Kebutuhannya bergantung pada bahan dan persyaratan penilaian.
Strategi 5: Identifikasi Titik Kritis dalam Proses yang Kompleks
Produk dengan satu atau dua bahan lokal dan pengolahan sederhana jarang menimbulkan masalah. Perhatian lebih diperlukan untuk produk yang melibatkan bahan impor, komponen turunan hewan, fermentasi atau pencampuran multi-tahap, lini produksi bersama, kontrak manufaktur, atau rantai pasok yang panjang.
Untuk produk-produk ini, identifikasi titik kritis halal sejak dini. Semakin cepat ditemukan, semakin banyak waktu untuk mencari bahan alternatif atau memisahkan lini produksi sebelum audit.
Strategi 6: Pertimbangkan Produk yang Masuk ke Saluran Baru
Ritel modern, marketplace, HORECA (hotel, restoran, kafe), distributor, pasar ekspor, dan tender korporasi masing-masing mungkin memiliki persyaratan yang berbeda. Jika suatu saluran mensyaratkan sertifikat halal, naikkan prioritas produk yang relevan. Dalam kasus itu, sertifikat menjadi syarat akses pasar.
Strategi 7: Susun Roadmap Bertahap
| Fase | Cakupan |
|---|---|
| Fase 1 | SKU dengan pendapatan tertinggi dan bahan yang relatif siap |
| Fase 2 | SKU yang berbagi bahan dengan Fase 1 |
| Fase 3 | SKU yang pemasoknya masih perlu melengkapi dokumen |
| Fase 4 | SKU dengan bahan atau proses yang lebih kompleks |
| Fase 5 | SKU baru, atau SKU dengan kontribusi bisnis yang lebih kecil |
Membagi 100 SKU menjadi lima paket kerja membuat proses lebih mudah dijadwalkan dan dipantau.
4. Matriks Penilaian untuk Prioritas
Agar urutannya dapat dipertanggungjawabkan, beri nilai setiap SKU dari 1 sampai 3 untuk faktor-faktor di bawah, lalu jumlahkan. Produk dengan total tertinggi masuk ke fase pertama.
| Faktor | Pertanyaan | Nilai 3 jika |
|---|---|---|
| Dampak bisnis | Seberapa besar kontribusi SKU bagi bisnis? | Merupakan produk inti |
| Prioritas pasar | Seberapa penting produk bagi saluran penjualannya? | Saluran mensyaratkan sertifikasi halal |
| Kesiapan bahan | Apakah dokumen bahan tersedia? | Hampir semuanya lengkap |
| Kesiapan pemasok | Apakah pemasok mudah diverifikasi? | Sebagian besar pemasok berada di Kelompok A |
| Kompleksitas proses | Seberapa kompleks proses produksinya? | Prosesnya sederhana |
| Bahan bersama | Apakah bahan dipakai di banyak SKU? | Dipakai di banyak SKU |
| Prioritas regulasi | Apakah kategori produk sudah wajib, atau segera wajib, bersertifikat halal? | Wajib mulai 18 Oktober 2026 |
Spreadsheet sederhana sudah cukup, asalkan setiap tim menggunakan skala dan definisi yang sama.
5. Ketika Satu Pemasok Memasok Banyak Bahan
Ukur pentingnya pemasok dari dampak bahan yang disediakannya. Misalkan Pemasok A menyediakan 10 bahan: tiga dipakai di 40 SKU, dua di 20 SKU, dan lima hanya di satu atau dua SKU masing-masing. Ketiga bahan pertama harus diprioritaskan karena memengaruhi 40 SKU sekaligus.
Telusuri rantainya sebagai Pemasok → Bahan → SKU → Fasilitas. Dengan peta ini, tim pengadaan, R&D, QA/QC, regulatori, dan tim halal internal dapat bekerja dari data yang sama.
6. Jangan Lupakan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH)
Sertifikasi halal tidak berakhir pada dokumen pendaftaran. Perusahaan wajib menerapkan SJPH, yang menurut kriteria LPPOM yang dipublikasikan mencakup lima bidang:
- Komitmen dan tanggung jawab: manajemen menetapkan kebijakan halal dan melatih staf.
- Bahan: seluruh bahan, termasuk bahan tambahan dan bahan pembantu proses, memenuhi persyaratan halal, dan setiap perubahan bahan dilaporkan.
- Proses produksi halal: produksi halal dipisahkan dari produksi non-halal, termasuk di fasilitas pihak ketiga.
- Produk: produk jadi memenuhi persyaratan halal.
- Pemantauan dan evaluasi: audit internal minimal setahun sekali, dengan pelaporan berkala kepada BPJPH.
Bagi bisnis multi-SKU, kriteria bahan dan pemantauan paling penting. Setiap SKU baru atau perubahan pemasok menambah beban administrasi. Sistem yang tertata memungkinkan produk baru masuk ke proses yang sudah ada, bukan mulai dari nol.
7. Urutan dari Pemetaan hingga Registrasi BPJPH
Langkah 1 sampai 5 merupakan tanggung jawab perusahaan dan biasanya paling memakan waktu. Informasi registrasi resmi tersedia di kanal BPJPH.
8. Pertanyaan yang Sering Diajukan
Punya Banyak SKU? Mulai dengan Tinjauan Prioritas
Anda tidak perlu data yang sempurna untuk memulai. Daftar SKU kasar dan komposisi bahan sudah cukup untuk mengidentifikasi bahan yang memengaruhi paling banyak produk serta pemasok yang membawa risiko terbesar. INSIGHTOF Consulting Indonesia telah mendampingi pengajuan BPOM dan halal sejak 2016, dan dapat membantu Anda mengurutkan portofolio.
INSIGHTOF Consulting Indonesia
Didirikan 2016 | 1.000+ Pengajuan BPOM & Halal








