Daftar Isi
- Pendahuluan
- Pasar yang Diproyeksikan Hampir Tiga Kali Lipat pada 2032
- Apa yang Mendorong Pertumbuhan Ini
- Apa yang Diungkap Tren Pencarian tentang Minat Konsumen
- Halal Beauty Merebut Hati Pasar Non-Muslim
- Asia Tenggara Masih Menjadi Penentu Laju
- Merek-Merek yang Membentuk Perilaku Pencarian Konsumen
- Kesenjangan Digital yang Menahan Halal Beauty
- Sebelum Bersaing Secara Global, Registrasi Dulu di Indonesia
- Kesimpulan
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
Halal beauty tidak lagi menjadi milik satu wilayah atau satu jenis konsumen saja. Sebuah studi 2025 yang diterbitkan di International Journal of Halal Industry (Koswara & Herlina, Universitas Islam Indonesia) menganalisis lima tahun data Google Trends dan menemukan sesuatu yang mencolok: minat pencarian terhadap skincare dan kecantikan halal kini terbentang dari Jakarta hingga Tokyo, dan dari Kuala Lumpur hingga Bratislava.
Artikel ini mengulas apa yang ditemukan riset tersebut, lalu mengaitkannya dengan sisi praktis yang perlu ditangani setiap merek sebelum masuk ke pasar Indonesia: notifikasi BPOM dan tenggat sertifikasi halal wajib di negara ini.
01.Pendahuluan
Selama bertahun-tahun, halal beauty membawa label yang sederhana: kategori niche untuk konsumen Muslim. Kerangka pikir itu kini tidak lagi berlaku. Sumber bahan yang etis, transparansi bahan baku, dan produksi bebas kekejaman kini mendorong keputusan pembelian di berbagai jenis konsumen, dan sertifikasi halal kebetulan memenuhi ketiga hal tersebut sekaligus.
Para peneliti ingin mengetahui secara persis seberapa jauh pergeseran ini telah berjalan. Maka, alih-alih hanya mengandalkan survei, mereka beralih ke Google Trends, jendela waktu nyata tentang apa yang benar-benar dicari orang, wilayah demi wilayah, selama lima tahun penuh.
02.Pasar yang Diproyeksikan Hampir Tiga Kali Lipat pada 2032
Angka-angka di balik pergeseran ini sulit diabaikan. Fortune Business Insights menilai pasar kosmetik halal global bernilai sekitar USD 47,76 miliar pada 2024, dengan proyeksi mencapai USD 115,03 miliar pada 2032. Angka ini setara dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 11,67%, laju yang sulit ditandingi oleh sedikit kategori kecantikan lainnya.
03.Apa yang Mendorong Pertumbuhan Ini
Tiga kekuatan menonjol di sini. Pertama, populasi Muslim global terus bertumbuh, dan seiring itu, permintaan yang stabil terhadap produk yang mengikuti prinsip Islam. Kedua, konsumerisme etis telah menjadi arus utama: konsumen kini menginginkan produk bebas kekejaman dan bertanggung jawab secara lingkungan, dan sertifikasi halal sering kali memberikan tepat hal tersebut. Ketiga, media sosial telah mengubah halal beauty menjadi sesuatu yang secara aktif ditemukan orang, bukan sekadar sesuatu yang mereka cari sendiri.
Bersama-sama, kekuatan-kekuatan ini menjelaskan mengapa halal beauty terus berkembang jauh melampaui basis tradisionalnya. Nilai-nilai etis, bukan sekadar nilai keagamaan, kini menarik pelanggan baru ke dalam kategori ini.
04.Apa yang Diungkap Tren Pencarian tentang Minat Konsumen
Antara 2019 dan 2023, pencarian global untuk “halal skincare” dan “halal beauty” tetap sangat stabil, dengan lonjakan sesekali yang terkait dengan peluncuran produk baru, kampanye influencer, dan berita regulasi. Konsistensi ini menandakan permintaan yang nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat.
Menariknya, “halal skincare” menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan “halal beauty”. Pembelian skincare cenderung bereaksi terhadap pemicu spesifik — ulasan viral, pergantian musim, peluncuran baru — sementara pencarian beauty tetap relatif stabil. Bagi merek, perbedaan ini penting: pemasaran skincare diuntungkan oleh kampanye yang tepat waktu dan berbasis momen, sementara pemasaran beauty dapat mengandalkan pembangunan merek yang stabil dan jangka panjang.
05.Halal Beauty Merebut Hati Pasar Non-Muslim
Di sinilah temuannya menjadi benar-benar mengejutkan. Slovakia, negara dengan populasi Muslim yang kecil, menempati peringkat pertama secara global dalam minat pencarian untuk halal skincare. Jepang dan Hong Kong mengikuti tak jauh di belakangnya, keduanya menunjukkan rasa ingin tahu yang kuat terhadap produk bersertifikat halal.
Pola ini sejalan dengan tren yang lebih luas yang digambarkan para peneliti sebagai gerakan “clean beauty”, di mana konsumen mengaitkan sertifikasi halal dengan keamanan dan mutu, terlepas dari latar belakang agama mereka. Peringkat Korea Selatan dan Jepang juga mencerminkan pasar skincare mereka yang maju, di mana konsumen secara aktif mencari formulasi inovatif, halal atau tidak.
06.Asia Tenggara Masih Menjadi Penentu Laju
Meskipun minat menyebar secara global, Asia Tenggara tetap menjadi basis utama kategori ini. Brunei, Thailand, dan Malaysia semuanya menunjukkan volume pencarian yang kuat untuk kosmetik halal, dan Indonesia memimpin kawasan ini secara khusus dalam pencarian skincare halal, kemungkinan berkat basis merek lokal yang terus berkembang dan dibangun berdasarkan formulasi yang sadar halal.
| Wilayah | Istilah Pencarian Halal Beauty Teratas |
|---|---|
| Indonesia | Wardah, Skintific, halal skincare |
| Malaysia | Safi, SimplySiti, halal beauty |
| UEA | Huda Beauty, halal lipstick |
| Inggris | Vegan halal makeup, clean beauty |
| Korea Selatan | Produk halal K-beauty |
Performa kuat Malaysia sejalan rapi dengan sistem sertifikasi halalnya yang sudah mapan, yang selama ini dipercaya konsumen. Indonesia, sementara itu, diuntungkan oleh ukuran pasarnya yang besar serta jajaran merek skincare halal lokal yang berkembang pesat.
07.Merek-Merek yang Membentuk Perilaku Pencarian Konsumen
Studi ini juga melacak merek-merek spesifik mana yang mendorong minat pencarian halal beauty, dan daftarnya jauh melampaui label halal khusus semata.
- Beauty of Joseon (Korea Selatan) — menarik perhatian melalui bahan hanbang tradisional dan formula lembut dengan minim bahan kimia yang menarik bagi konsumen yang sadar halal, tanpa pemasaran halal formal
- Rare Beauty (Amerika Serikat) — merek vegan dan bebas kekejaman yang didirikan oleh Selena Gomez; positioning bahan bersihnya banyak beririsan dengan nilai-nilai halal, meskipun tanpa sertifikasi formal
- Huda Beauty (UEA) — dibangun oleh Huda Kattan, merek ini beresonansi kuat dengan konsumen Muslim di seluruh dunia melalui desain produk maupun identitas budayanya
- Skintific — dikenal dengan formulasi yang teruji dermatolog dan berbasis riset yang menarik bagi pembeli yang fokus pada keamanan dan sadar halal di seluruh Asia Tenggara
- The Originote (Indonesia) — merek skincare halal lokal yang terjangkau, mencerminkan peran Indonesia yang terus berkembang baik sebagai pasar utama maupun produsen di sektor ini
Perhatikan polanya: beberapa merek ini bahkan tidak pernah memasarkan dirinya sebagai halal sama sekali. Konsumen tampaknya mengaitkan kecantikan yang bebas kekejaman, vegan, dan diproduksi secara etis dengan nilai-nilai halal dengan sendirinya, yang mengaburkan batas antara “bersertifikat halal” dan “berdekatan dengan halal” di mata konsumen.
08.Kesenjangan Digital yang Menahan Halal Beauty
Meskipun permintaannya kuat, studi ini menemukan kesenjangan yang nyata: 48% konsumen secara aktif mencari produk kecantikan bersertifikat halal, namun banyak yang akhirnya tetap membeli merek arus utama sebagai gantinya. Mengapa? Pemain arus utama sekadar berinvestasi lebih besar dalam pemasaran digital, kemitraan influencer, dan visibilitas daring.
Merek bersertifikat halal sering kali mengandalkan pendekatan pemasaran tradisional, sementara raksasa seperti L’Oréal, Estée Lauder, dan MAC mendominasi hasil pencarian melalui strategi digital yang agresif. Sementara itu, merek “clean beauty” seperti The Ordinary dan Fenty Beauty berhasil menarik konsumen yang berorientasi etika tanpa pernah menyebut kata halal sama sekali.
09.Sebelum Bersaing Secara Global, Registrasi Dulu di Indonesia
Tren pencarian global mengarah pada satu peluang yang jelas: Indonesia. Sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara dan negara dengan kekuatan merek lokal yang terus meningkat, Indonesia menjadi titik masuk yang alami bagi setiap strategi halal beauty. Namun untuk masuk, dibutuhkan dua persetujuan terpisah sebelum satu pun produk dapat secara legal sampai ke rak toko.
Notifikasi BPOM (NIE)
Setiap produk kosmetik yang dijual di Indonesia — termasuk sampel dan tester — membutuhkan nomor notifikasi BPOM, yang diterbitkan melalui sistem Notifkos. Ini membutuhkan badan hukum Indonesia dengan NIB dan PJT yang terdaftar, beserta Product Information File yang lengkap mencakup formulasi, kepatuhan produksi, dan data keamanan.
Sertifikasi Halal Wajib
Mulai 17 Oktober 2026, kosmetik tanpa sertifikasi halal yang sah tidak lagi dapat dijual secara legal di Indonesia, terlepas dari status BPOM-nya. Mengingat tren pencarian global yang mendukung produk bersertifikat halal, tenggat ini bukan sekadar persyaratan kepatuhan — ini adalah keunggulan pasar yang nyata bagi merek yang bergerak lebih awal.
- Badan hukum Indonesia — PT PMA lokal atau PT Indonesia yang memiliki NIB dan PJT terdaftar
- Dokumentasi bahan baku yang lengkap — rincian formula penuh dengan detail sumber untuk setiap bahan baku
- Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) — dokumentasi internal yang membuktikan kepatuhan halal yang berkelanjutan
- Kesiapan audit fasilitas — proses produksi, penyimpanan, dan pengemasan yang siap untuk ditinjau BPJPH
10.Kesimpulan
Halal beauty telah bergerak jauh melampaui batas tradisionalnya. Data pencarian kini menunjukkan rasa ingin tahu yang nyata dari Tokyo hingga Bratislava, di samping permintaan yang stabil dan mengakar di seluruh Asia Tenggara. Konsumerisme etis, bukan sekadar agama, semakin mendorong pertumbuhan ini, dan pergeseran tersebut membuka peluang nyata bagi merek yang mau berinvestasi baik dalam sertifikasi maupun visibilitas digital.
Bagi merek yang secara khusus membidik Indonesia, jalan ke depan melibatkan dua jalur yang bergerak bersamaan: notifikasi BPOM untuk akses pasar, dan sertifikasi halal sebelum tenggat Oktober 2026. Merek yang menyelaraskan keduanya sejak awal berada pada posisi terbaik untuk mengubah minat pencarian global menjadi pangsa pasar yang nyata dan berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Seberapa besar pasar kosmetik halal global diperkirakan akan tumbuh?
Fortune Business Insights memproyeksikan pasar ini akan tumbuh dari sekitar USD 47,76 miliar pada 2024 menjadi USD 115,03 miliar pada 2032, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 11,67%.
Apakah negara-negara non-Muslim benar-benar mencari produk halal beauty?
Ya, dan sering kali lebih dari yang diperkirakan. Studi 2025 menemukan Slovakia menempati peringkat pertama secara global dalam minat pencarian untuk halal skincare, dengan Jepang dan Hong Kong juga menunjukkan keterlibatan yang kuat, sebagian besar didorong oleh tren clean beauty dan transparansi bahan baku.
Mengapa beberapa merek menarik konsumen yang sadar halal tanpa bersertifikat?
Konsumen sering mengaitkan produk yang bebas kekejaman, vegan, dan bersumber secara etis dengan nilai-nilai halal, bahkan ketika sebuah merek tidak memiliki sertifikasi formal. Irisan ini menjelaskan mengapa merek seperti Rare Beauty dan Huda Beauty melihat minat pencarian yang kuat dari konsumen yang sadar halal.
Apakah sertifikasi halal wajib untuk kosmetik yang dijual di Indonesia?
Ya. Mulai 17 Oktober 2026, produk kosmetik tanpa sertifikasi halal yang sah dari BPJPH tidak lagi dapat didistribusikan secara legal di Indonesia, di samping persyaratan notifikasi BPOM yang sudah ada.
Mengapa banyak merek bersertifikat halal kesulitan dengan visibilitas meski permintaannya kuat?
Riset menunjukkan 48% konsumen secara aktif mencari produk kecantikan bersertifikat halal, namun merek arus utama sering mendominasi melalui pemasaran digital dan strategi influencer yang lebih kuat. Merek halal yang berinvestasi setara dalam visibilitas digital cenderung menutup kesenjangan ini.
Siap Membawa Merek Kecantikan Anda ke Pasar Halal Indonesia yang Terus Berkembang?
INSIGHTOF Consulting Indonesia memandu merek kosmetik melalui notifikasi BPOM dan sertifikasi halal, sehingga produk Anda sepenuhnya patuh jauh sebelum tenggat Oktober 2026.




